Saya adalah anak
dari sepasang pengantin yang gagal menikah dalam epos Mahabarata. Saya adalah
anak dari Bhisma dan Amba. Saya adalah Cinta. Cinta macam apakah saya? Saya
adalah energi dasar, tunggal. Kebencianpun berasal dari saya. Ia (kebencian)
adalah cinta yang mengalami saturasi. Dan semua kategori cinta sesungguhnya
adalah satu zat yang sama, dengan kadar polusi yang berbeda. Sedangkan polusi
itu terletak pada pikiran. Jadi, ketika polusi telah lenyap maka yang ada
hanyalah mengalami. Cinta = mengalami.
Lalu, untuk
apakah saya disini? Saya bertugas sebagai simulakrum, sebuah ruang yang
disyarati dublikasi dan daur ulang fragmen – fragmen dunia yang berbeda – beda
di dalam satu ruang dan waktu yang sama. Alam telah meleburkan saya pada ilusi
dan realita, akibat dari fantasi yang dipertontonkan berulang – ulang dan
berlipat ganda, sehingga akhirnya saya tak jelas lagi. Nyata atau maya. Saya
tinggal di surga dan neraka bergantian, seperti siang yang dimasukkan dalam
malam. Saya punya sebuah tujuan di sini, saya ingin pulang dalam keadaan sadar
dan damai. Pulang pada embun – embun Biyang. Maka, di sini saya akan menuliskan
detail jalan – jalan yang saya lalui pada perjalanan sunya menuju rumah putih
di lembah kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar